Klik Suka (◠‿◠) Thanks

Tips Sebelum Menjadi Atlet Triathlon


Fajar Anugrah Putra/Yahoo! Indonesia

TRIATHLON adalah olahraga uji ketahanan fisik, mengingat kegiatan itu terdiri dari tiga cabang olahraga: berenang, bersepeda dan berlari (marathon). Karena itu untuk bisa mengikuti lomba triathlon dibutuhkan latihan fisik dan pemenuhan gizi yang benar.

Ryan, seorang pelatih kebugaran, mengatakan triathlon membutuhkan latihan total body workout yang berarti semua anggota tubuh harus dilatih sebaik-baiknya.

“Kaki, tangan, badan itu harus dilatih kekuatannya dan bahkan harus juga dilatih untuk kecepatan, kelincahan, keseimbangan dan staminanya. Itu semuanya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dilewatkan ketika kita ingin mencoba olahraga triathlon," ujar Ryan.

Tetapi porsinya tergantung kita, apakah triathlon hanya untuk coba-coba saja atau mengejar prestasi.

Sebelum mencoba triathlon, kita harus rutin berolahraga empat kali seminggu dan itu butuh waktu sekitar 3-6 bulan latihan.

“Dengan rutinitas seperti itu, badan kita baru bisa menyesuaikan diri. Tolok ukurnya adalah denyut jantung. Semakin keras latihannya dan semakin pelan denyut jantungnya, maka semakin bagus dan layak mencoba triathlon,” jelasnya.

Denyut jantung orang normal adalah 75-80 kali per menit, tapi denyut jantung yang bagus dalam hal ini adalah 60-65 kali per menit. Orang yang sudah terbiasa dipacu, maka badannya akan semakin rileks, meskipun dia terpacu tapi denyut jantungnya justru semakin pelan.

Bukan hanya latihan, untuk triathlon juga butuh asupan gizi. Ahli Gizi dari RSCM dan RS Pelni, Dyah Eka Handayani mengatakan, kebutuhan gizi untuk triathlon berbeda-beda. Tergantung apakah untuk latihan biasa, persiapan pertandingan yang masih cukup lama atau untuk pertandingan yang sudah dekat.

“Itu yang disebut dengan fase-fase kebutuhan nutrisi untuk atlet. Dan ada juga fase nutrisi untuk pemulihan. Yang pasti, perbedaannya adalah dalam komposisi nutrisinya saja,” ujar Dyah.

Menjelang pertandingan, komposisi nutrisi protein harus lebih banyak dibandingkan ketika sedang latihan biasa. Perbandingannya bisa 1,5-2 kali lipat. Nah, di saat pertandingan, komposisi proteinnya ditambah lagi hingga 3 kali lipat.

“Tapi itu tergantung dengan jenis olahraga yang dilakukan. Bisa 4 kali lipat, karena jenis olahraga ini sangat membutuhkan daya tahan tubuh yang optimal,” urainya.

Penambahan komposisi nutrisi itu ibarat tabungan bagi si atlet. Jadi tidak bisa bahkan tidak boleh dilakukan secara mendadak. Semuanya ada hitung-hitungannya.

Misalkan, protein yang dibutuhkan untuk menghadapi pertandingan adalah sebanyak 40% dari total 100% gabungan nutrisi (karbohidrat, lemak, mineral), maka tidak kita tidak boleh menambahnya secara mendadak.

“Jadi begini, jika besok pagi mau bertanding dan kemudian malamnya baru mencukupi kebutuhan protein, itu salah. Yang benar adalah harus ditabung. Maksudnya, harus jauh-jauh hari kita sudah pelan-pelan meningkatkan takaran kebutuhan gizi yang kita konsumsi,” katanya.

Tidak boleh kaget dan gabungannya tidak boleh lebih dari kebutuhan kalori total yaitu 100%. Dan hitung-hitungannya juga tergantung tinggi dan berat badan.

Protein yang paling tepat untuk kebutuhan olahrahga ini adalah protein hewani. Yang paling bagus, protein hewani disesuaikan dengan selera serta riwayat kesehatan orang yang bersangkutan. Jika ada alergi ikan, berarti jangan makan ikan dan ganti dengan daging.

Untuk mencapai kebugaran yang optimal, dari sisi asupan gizi sebenarnya tidak ada pantangan yang spesifik. Semuanya tergantung kondisi si atlet dan jenis olahraga yang  ditekuninya. Kalau orangnya gemuk, otomatis yang harus dikurangi adalah lemaknya.

1 comment

25 September 2017 14.38

tidak sembarang atlet bisa memenangkan olah raga ini, karena harus benar - benar kuat dan menguasai 3 teknik cabang olah raga seklaigus.
sejarah bola basket

Posting Komentar - Back to Content